RSS

Pengertian Tarub

Pengertian Tarub seperti yang disebutkan dalam buku Tata Upacara dan Wicara Pengantin gaya Yogyakart ( Drs. Suwarna Pringgawidagda, M. Pd ) adalah sebagai berikut : 

  • Menurut Adrianto ( 1998 : 3 ) tarub dilingkungan keraton Yogyakarta diartikan sebagai suatu atap sementara di halaman rumah yang dihias dengan janur melengkung pada tiangnya dan bagian tepi tarub untuk perayaan pengantin, atap tambahan itu disebut  gaba-gaba sebagai atap tambahan untuk berteduh para tamu dan undangan pada upacara perhelatan mantu, tarub terbuat dari anyaman blarak ( daun kelapa ) untuk keperluan sementara atap tambahan.
  • Tarub juga bermakna kegiatan memasang gaba-gaba dan dikerjakan oleh sejumlah orang secara bersama-sama.
  • Tarub juga melambangkan kumpulan banyak orang yang secara bersama-sama melakukan suatu pekerjaan untuk membantu penyelenggaraan perhelatan mantu.
  • Tarub dapat dibuat singkatan ( jarwa dhosok ) nata lan murub ( mengatur dan api ) atau ditata dimen murub ( dihias agar tampak indah ), nata lan murub mengandung maksud bahwa api asmara maupun api kehidupan senantiasa harus diatur ( ditata ) agar hidup kita berirama, indah dan membahagiakan ( khususnya bagi pengantin berdua ). Sebaliknya, jika api asmara dan semangat kehidupan ini tidak diatur, maka akan berakibat kehancuran, misalnya terjadinya perselingkuhan, percekcokan, ketidak pedulian ( manut karepe dhewe ). Makna tarub melambangkan adanya harapan bahwa manusia harus dapat mengatur irama kehidupan.
  • Singkatan ( jarwa dhosok ) tarub adalah ditata dimen murub artinya : kediaman pemangku hajat dihias sedemikian rupa sehingga tampak indah, keindahan ini mencerminkan kebahagiaan pemangku hajat, penghiasan tarub ini dengan berbagai sarana seperti bleketepe, janur kuning, berbagai tuwuhan ( tumbuh-tumbuhan ) yang semua mengandung maksud atau pengharapan.
  • Tarub dalam bahasa arab adalah Ta’aruf yang berarti pengumuman  ( tengara ), pemasangan tarub secara tidak langsung memberikan pengumuman kepada para tetangga dan handai taulan bahwa pada saat itu orang tua akan menikahkan putri tercintanya, memang dalam agama islam merupakan sunnah Rosululloh SAW, yang dalam hal ini diperintahkan memberitakan kabar gembira kepada sanak saudara dan handai taulan. Yang bertujuan sebagai ungkapan syukur dan untuk menghilangkan fitnah di masyarakat terhadap pasangan yang di jodohkan, karena apabila masyarakat belum mengetahui bahwa pasangan tersebut sudah resmi dalam ikatan pernikahan, kemungkinan besar akan menjadi omongan warga dan fitnah di antara mereka yang belum mengetahui status hubungan mereka, karena pasti bila pasangan yang sudah resmi dalam pernikahan akan hidup dalam satu rumah.

DjawaDwipa

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: