RSS

Srah-Srahan

  • Pengertian   

          Pada hakikatnya ( zaman dulu ) srah-srahan adalah upacara penyerahan barang – barang dari pihak calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita dan orangtuanya sebagai hadiah atau bebana menjelang upacara panggih ( Bratasiswara, 2000 : 737 ), srah-srahan merupakan acara yang tidak baku, tetapi hanya sebagai upaya nepa palupi atau melestarikan adat budaya yang telah berjalan dan dipandang baik. Srah-srahan hanya merupakan acara tambahan dalam acara mantu, srah-srahan ini sering disatukan dengan penyerahan jenis-jenis barang yang ada hubunganya dengan perkawinan seperti paningset dan tukon.

          Akan tetapi pada saat ini srah-srahan justru menjadi istilah yang lebih popular dalam rangkaian acara pernikahan dalam acara srah-srahan ini, ada dua hal yang diserahkan, yakni :

  • Calon Pengantin Pria
  • Segala hantaran yang berisi sanggan, suruh ayu, barang-barang dari emas ( seperti kalung, cincin, gelang ) busana, sarana berhias ( alat2 Make up ), jadah, wajik, buah-buahan, pamesing, pelangkah ( jika ada ) dan juga uang, penyerahan seluruh umbarampe ( sarana ) tersebut hanya dilakukan sekali seperti halnya penggabungan antara tukon, paningset dan srah-srahan itu sendiri, yang akhirnya disebut srah-srahan, penggabungan ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal, antara lain : ketidak tauan, ketidak perluan, kepraktisan dan efisiensi waktu dan acara.
  • Pelaksanaan srah-srahan

1.   Cara tradisional

        Pada awalnya, berdasarkan tradisi acara srah-srahan dilaksanakan sekitar dua atau tiga hari menjelang upacara panggih, acara di laksanakan di kediaman calon pengantin putri, dan barang yang dibawa biasanya tidak ditentukan oleh adat, pada zaman dahulu barang-barang srah-srahan dibuat dua kali lipat dari barang – barang paningset, dan umumnya berkaitan dengan kebutuhan hidup keluarga.

       Batasiswara ( 2000 : 738 ) dalam bukunya yang berjudul Bauwarna Adat Tata Cara jawa menyebutkan :

  • Kebo sejodho : yakni sepasang kerbau jantan dan betina yang tanduknya diselut ( dicathok ) warna putrid dengan perak dan kapur.
  • Banyak sejodho : yakni sepasang angsa jantan dan betina digendong dengan kain cindai ( cindhe ) atau sindur.
  • Pitik sejodho : yakni ayam jantan dan betina diemban dengan kain cindai atau sindur.
  • Jodhang berisi tuwuhan dan biji : wit Lombok sarakit, wit terong sarakit, wit parijatha sarakit, dan wit tomat sarakit.
  • Sepasang tebu herjuna, yakni tebu berwarna hitam ( wulung ) beserta daunya.
  • Jodhang berisi bahan mentah : beras satu karung ( bagor ) berisi 100 taker dan kelapa sebanyak 25 ( selawe ) butir.
  • Jodhang berisi perabot rumah tangga : dandang, kendhil, kenceng, ceret, siwur, tembaga, wajan, diyan, ilir, pisau, parut, kukusan, dsb.
  • Jodhang berisi makanan olahan seperti nasi dan lauk pauk lengkap, olahan lengkap, tanpa gula dan teh.
  • Jodhang berisi anggi-anggi, jamu racikan, galian, empon-empon, ditutup dengan cindai ( anggi-anggi adalah kentong yang di jahit mati ).
  • Jodhang berisi perabot membatik : gawangan, canthing, wajan, bandhul, mori dan dakon.
  • Uang Rp 25,- ( selawe ).

 2.    Cara Modern

      Srah-srahan dilaksanakan pada malam midodareni atau beberapa saat menjelang ijab qobul, ( dalam agama lain biasanya srah-srahan dilakukan pada malam midodareni sebelum acara doa / ibadat sabda ) srah-srahan ini tidak membedakan antara tukon, paningset atau srah-srahan, bahkan ada yang menyebut upakarti srah-srahan.

Ubarampe yang diserahkan adalah :

  1. Sanggan : pisang satu tangkep, pucuknya di cathok dengan kertas emas, diserati suruh ayu dan lawe putih.
  2. Pakaian lengkap ( busana sapengadeg ), sarana untuk berhias ( pangadining sarira ), dan perhiasan ( gelang, kalung cincin ).
  3. Sejumlah uang sumbangan untuk penyelenggaraan perhelatan.
  4. Jadah, wajik
  5. Buah-buahan.
  6. Ada juga yang menambah beberapa ruas tebu herjuna ( tebu hitam tanpa daun ), ayam jantan, gula setangkep, beras dan kelapa.

        Segala ubarampe tersebut dihias dan di bentuk sedemikian rupa sehingga tanpak indah, bahkan dibentuk seperti merak, angsa, ular, melingkar dsb,

Catatan :

         Pada zaman yang serba praktis dan efesian, acara yang dominan sebelum mantu adalah lamaran dan srah-srahan, srah-srahan ini mengaburkan perbedaan antara tukon, paningset dan srah-srahan, dewasa ini orang cenderung menjadikan satu antara tukon, paningset dan srah-srahan, penyatuan ini akhirnya disebut srah-srahan.

Sumber : Buku Tata cara Upacara dan Wicara Pengantin gaya Yogyakarta ( Drs. Suwarna Pringgawidagda, M. Pd )

DjawaDwipa

Ke Tahap Persiapan Mantu : 
Nontoni,Lamaran,Asok tukon,Paningset,Srah-srahan
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: